XHTML DTD: Antara Transitional dengan Strict

Image taken from GabrielUtasi.com
Beberapa waktu lalu saya sibuk mencari perbedaan doctype XHTML antara Transitional dengan Strict yang distandarkan oleh W3C. Yang saya temukan malah banyak saran untuk menggunakan tipe dokumen Strict, jika kita menggunakan XHTML yang sesuai dengan web standards dan demi kepentingan dunia web di masa depan, dibandingkan menggunakan tipe dokumen Transitional (seperti pada tema blog saya dulu). Lalu sebenarnya apa perbedaan utama dari kedua doctype tersebut? Dari beberapa informasi yang saya kumpulkan, bahwa tipe dokumen Strict memiliki aturan untuk memisahkan struktur dengan layout, yang kurang lebih berarti bahwa semua layout atau presentasi atau tampilan dari sebuah halaman web sepenuhnya dikontrol oleh CSS, jadi tidak lagi menggunakan tag-tag HTML (saya mengartikan strict sebagai format XHTML yang sempurna). Sedangkan tipe dokumen transitional masih memperbolehkan kita untuk menambahkan elemen dan atribut umum dalam HTML lama untuk mengatur layout halaman web, selain menggunakan CSS (saya mengartikan transitional sebagai format transisi dari HTML ke XHTML).
Sebagai contoh, atribut target dalam sebuah link yang berfungsi untuk membuka halaman baru dalam tab/window terpisah masih valid dalam Transitional, tetapi tidak valid dalam Strict. Alasan yang saya temukan adalah, karena hampir semua web browser sudah menggunakan model tab untuk membuka halaman web, serta alasan lainnya adalah ponsel dan PDA tidak bisa memunculkan jendela browser baru melalui link yang ber-atribut target, karena itulah atribut target tidak digunakan lagi
. Contoh lain yaitu jika kita sering menggunakan <div align="center"> dan tag <center>, kedua elemen dan atribut tersebut akan valid dalam Transitional, tetapi tidak pada Strict, karena keduanya bisa diatur lewat CSS: <div style="text-align: center;">. Begitu pula dengan tag <u> dan <font>, keduanya tidak valid dalam Strict karena sudah bisa digantikan dengan CSS. Tag <u> yaitu tag untuk membuat garis bawah sudah tidak dipakai lagi, karena pada CSS kita bisa menggunakan text-decoration:underline;. Demikian pula dengan tag <font> yang bisa kita ganti menggunakan CSS dengan sesuka hati.
Keuntungan menggunakan document type Strict adalah halaman web kita menjadi standar sepenuhnya, jika mengikuti aturan-aturan yang ada. Document type Strict juga membuat halaman web menjadi lebih mudah diatur karena adanya pemisahan struktur halaman (HTML) dengan presentasi/layout (CSS) halaman itu sendiri, serta membuat halaman web lebih kecil dan ringan untuk didownload (bandingkan dengan HTML yang memakai table untuk layoutnya dan font untuk dekorasi teksnya). Bahkan konon mesin pencari seperti Google menyukai halaman web yang valid atau yang sesuai standar. Dengan web standar halaman website menjadi kompatibel dengan berbagai macam perangkat tidak hanya komputer tetapi juga perangkat mobile.
Tapi membuat halaman yang 100% valid XHTML Strict bukanlah perkara yang mudah (seperti susahnya membuat blog ini menjadi valid XHTML 1.0 Strict
), apalagi untuk pemula seperti saya yang masih terbiasa menggunakan tag-tag HTML lama. Banyak elemen dan atribut yang biasanya sering digunakan harus dihindari dalam menyusun markup (jadi ingat waktu SMA dulu belajar HTML saya sering bermain-main dengan marquee, blink, table, dan tag-tag kuno yang lain
). Terlebih lagi dengan CSS yang memiliki banyak sekali selector dan property yang harus dipelajari dan mungkin dihapalkan
. Tapi, seperti yang disarankan oleh banyak web designer diluar sana, untuk menguasai web standar memang perlu dilakukan metode langkah bayi, bertahap dari old-school HTML, Transitional, HTML Strict, kemudian XHTML Strict.








Blog ini cuma blog komersil yang dipakai oleh fanari buat nyari duit. Siapa fanari?? Calon "pengangguran" yang (mencoba) sukses dalam bisnis online :).
{11 Comments so far ↓}